BERTEKUN DALAM KESALEHAN
BERTEKUN DALAM KESALEHAN
(Ayub 2:3)

Firman
Tuhan kepada Iblis:”Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada
seorangpu dibumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan
Allah ddan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun
telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.”
Pada dasarnya, manusia melakukan
kejahatan disebabkan karena tidak tekun
dalam kesalehannya, mudah terhasut, baik itu secara langsung oleh pihak-pihak
lain, maupun terhasut oleh keinginannya sendiri, tidak mampu mempertahankan hidup
bersih, tidak mampu mempertahankan hati yang bersih karena tergoda dengan
kehidupan orang “fasik” yang terlihat lebih nyaman, seperti yang diungkapkan
pemazmur dalam mazmur 73: 12-14 :”Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik:
mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku
mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi”.
Bagaimanakah kita dapat tetap
bertekun seperti Ayub? Tetap menjaga hidup yang saleh ditengah-tengah dunia
yang penuh kefasikan: Ada beberapa hal yang harus kita ketahui yaitu:
Pertama: Kita tidak bergantung kepada berkat material. Ayub Pasal
1:21 menjelaskan kepada kita bahwa Ayub tidak bergantung pada berkat material,
harta dan anak-anak hanyalah bagian dari berkat Tuhan yang tidak dibawanya
ketika ia lahir dan juga tidak dibawanya ketika ia mati. Berkat material
diberikan Tuhan sewaktu kita didunia untuk membuat kita mengerti dan mengenal
Tuhan, sehingga yang terpenting bukanlah tentang berkat material itu, melainkan
pengenalan dan bergaul intim dengan Tuhan. Ayub tidak bergantung pada berkat
Tuhan, tetapi bergantung kepada “sumber
berkat” yaitu Tuhan sendiri. Jika kita bergantung pada “berkat” maka ketika berkat itu diambil dari kita, kita akan
kehilangan kesalehan dan kesetiaan kepada Tuhan, tetapi jika kita bergantung
pada “sumber berkat” kita tidak akan
kehilangan “berkat” untuk selamanya.
Kedua: Kita tidak bergantung kepada “hidup/nyawa” kita, Lukas 17
ayat 33 mengatakan:”Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan
menyelamatkannya. Kita semestinya bergantung kepada pemilik hidup, sumber
kehidupan yaitu Tuhan, Tuhaanlah sumber berkat dan sumber kehidupan. Ayub pasal
2 :5-6 menjelaskan bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas kehidupan manusia, bahkan
iblispun tidak berkuasa atas kehidupan manusia.
Dari kedua hal di atas, maka yang
harus kita sadari adalah bahwa iblis tidak berhak dan tidak berkuasa atas
berkat material dan kehidupan yang kita miliki, jika kita kehilangan berkat
Tuhan bahkan nyawa kita terancam sekalipun, tetaplah bertekun dalam kesalehan,
janganlah pandang hal tersebut sebagai pencobaan, tapi lihatlah sebagai suatu
ujian iman untuk kita melangkah lebih tinggi bersama Tuhan, sebab segala
sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, tidak ada yang dapat terjadi tanpa
seijin Tuhan, dan semua itu untuk mendatangkan kebaikan dalam kehidupan kita
(Roma 8:28)
“Kita Tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi
mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”
Comments
Post a Comment