MAKALAH KESEHATAN (PENTINGNYA KESEIMBANGAN INTI)


BAB I
PENDAHULUAN


A.  Dasar Pemikiran.
Keseimbangan merupakan bagian yang sangat penting dalam menjaga postur tubuh manusia sehingga dapat berdiri tegak dan mempertahankan posisi tubuh. Keseimbangan terdiri dari dua macam yaitu keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis dan dinamis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sistem sensoris dan muskuloskeletal. Pada keseimbangan statis sistem muskuloskeletal dapat mengalami kelemahan dikarenakan kurang optimalnya aktivitas keseharian. Aktivitas fisik yang kurang menyebabkan gangguan muskuloskeletal sehingga ketika manusia melakukan aktivitas fisik yang berat dan mendadak akan menyebabkan cedera. Kelemahan sistem muskuloskeletal dapat mempengaruhi line of gravity dan center of gravity. Dimana pada salah satu sisi tubuh mengalami kelemahan dan salah satu sisi normal akan menyebabkan center of gravity seseorang berpindah dan mengakibatkan gangguan keseimbangan tubuh (Groves and Camailone, 1975).
Kemampuan untuk mempertahankan sistem saraf otot dalam suatu posisi atau sikap yang efisien ketika bergerak merupakan fungsi dari keseimbangan. Perkembangan motorik pada manusia akan terus berkembang dari dalam kandungan hingga dewasa. Aktivitas keseharian dilakukan akan semakin berat dan kompleks pada setiap fase perkembangan. Fase perkembangan motorik harus terlewati dengan optimal agar tidak mempengaruhi kemampuan bergerak dalam kehidupan (Retnowati, 2010).
Berbagai gerakan disetiap segmen tubuh perlu di kontrol oleh sistem keseimbangan dengan di dukung oleh sistem muskuloskeletal dan bidang tumpu. Perkembangan keseimbangan tubuh dipengaruhi oleh sistem informasi sensoris, respon otot–otot sensoris yang sinergis (postural muscle response synergies), kekuatan otot (muscle strenght), adaptive system, lingkup gerak sendi (Suhartono, 2005).  Respon nukleus vestibular dalam bentuk luaran motorik otot ekstremitas dan badan sehingga didapatkan pemeliharaan keseimbangan dan postur yang diinginkan, kontrol gerakan mata, persepsi gerakan dan orientasi dipengaruhi oleh input yang diterima oleh reseptor di mata, di kulit, sendi, otot, dan reseptor di kanalis semikularis dan organ otolit (Sherwood, 2002). Keseimbangan tubuh dapat terjaga dengan mempertahankan tubuh tetap tegak dan melakukan gerakan diperlukan system muskuloskeletal yang optimal. Komponen muskuloskeletal adalah dasar untuk mengkontrol keseimbangan termasuk extensibility  dari soft tissue, kemampuan aktif dan pasif yang elastis dari otot. Komponen saraf yang mengkontrol kekuatan generalisasi dan kekuatannya.
Setiap manusia memiliki potensi gerak yang dapat dikembangkan sampai maksimal, tetapi dalam kenyataannya gerak yang tersedia bukanlah gerak maksimal melainkan gerak aktual. Gerak aktual belum tentu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam beraktifitas. Gerak ini bisa saja berlebih ataupun kurang, dan bahkan bisa juga tepat mencapai tujuan (Suhartono 2005). 
Menurut Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes pada hasil RISKESDAS tahun 2013 juga menunjukkan bahwa gaya hidup bermalas-malasan dan aktivitas fisik yang kurang, dapat menurunkan kemampuan tonus otot. Tonus otot sangat berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh manusia. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 memperlihatkan bahwa 48,2% penduduk Indonesia usia lebih dari 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik (Depkes RI, 2008). 
Kurangnya aktifitas fisik akan mempengaruhi kondisi fisik remaja. Data yang dihimpun oleh Safe Kids Worldwide menunjukkan, sekitar 1,35 juta kunjungan ke unit gawat darurat setiap tahunnya disebabkan cedera saat berolahraga, dan sekitar 20 persen terjadi pada anak atau remaja. Cedera yang paling sering terjadi antara lain terkilir, patah tulang, memar, dan luka tergores di kulit (Widiyani, 2013). Komponen kondisi fisik terdiri dari kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan umum, fleksibilitas, kecepatan, koordinasi, agility dan keseimbangan (Subrajah, 2012). 
Seperti yang tercantum dalam KEPMENKES 1363 tahun 2001 disebutkan bahwa : Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis, dan makanis), pelatihan fungsi dan komunikasi. Fisioterapi sebagai tenaga kesehatan harus mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk memaksimalkan potensi gerak yang berhubungan dengan mengembangkan, mencegah, mengobati dan mengembalikan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif) gerak dan fungsi seseorang. Hal ini menandakan peran seorang Fisioterapi tidak hanya pada orang sakit saja tetapi juga berperan pada orang sehat untuk mengembangkan dan memelihara kemampuan aktifitas ototnya.



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah yang disampaikan sebagai berikut: Apa yang dimaksud dengan core balance, apa factor penunjang core balance dan apa penyebab terganggunya core balance?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: 
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan core balance dan seberapa penting core balance dalam kehidupan manusia, factor-faktor stabilitas core balance dan factor yang mengganggu core balance.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan pada penelitian ini adalah:
1.  Bagi keilmuan, memperoleh pemahaman yang benar tentang core balance dan tentang arti penting core balance dalam kehidupan manusia.
2. Bagi profesi, sebagai pedoman bagi fisioterapis untuk upaya meningkatkan pelayanan Fisioterapi.





















BAB II
LANDASAN TEORI
Core balance adalah sebuah program untuk mengetahui ketidakseimbangan yang terjadi pada manusia dan upaya menyeimbangkan kembali kehidupan manusia secara menyeluruh baik mental, fisik dan spiritual. “The purpose of the core balance program is to identify imbalances and re-balance all areas of your life-mental, physical, emotional and spiritual. This creates a ‘shift’ which increases consciousness and therefore balance and health at all of these levels. Being ‘in balance’ and ‘in the moment/ are the hallmarks of true consciousness and health. ”( http://www.core-balance.co.uk/). Untuk lebih memahami tentang core balance maka ada beberapa hal yang harus dipahami, yaitu:
A. Keseimbangan 
1. Pengertian Keseimbangan
Keseimbangan diartikan sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support). Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di dukung oleh sistem muskuloskeletal dan bidang tumpu. Kemampuan untuk menyeimbangkan massa tubuh dengan bidang tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktifitas secara efektif dan efesien (Indriaf, 2010).
Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan postur oleh aktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan sistem regulasi yang berperan dalam pembentukan keseimbangan. Tujuan tubuh mempertahankan keseimbangan adalah menyangga tubuh melawan gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar sejajar dan seimbang dengan bidang tumpu, serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak (Irfan, 2010).
Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan didukung oleh sistem muskuloskeletal dan bidang tumpu. Kemampuan untuk menyeimbangkan massa tubuh dengan bidang tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif dan efisien.
Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dan integrasi/interaksi sistem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk propioceptor) dan muskuloskeletal (otot, sendi dan jaringan lunak lain) yang dimodifikasi/di atur dalam otak (kontrol motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum, dan area asosiasi) sebagai respon terhadap perubahan kondisi ekternal dan internal. Serta dipengaruhi oleh faktor lain seperti, usia, motivasi, kognisi, lingkungan, kelelahan, pengaruh obat dan pengalaman terdahulu (Ma’mun, 2000).
Kemampuan manusia untuk mempertahankan posisi tegak berdiri tergantung pada integritas sistem visual, vestibular, propioseptif, taktil dan juga sensory integration, sistem saraf pusat, tonus otot yang efektif yang mengadaptasi secara cepat perubahan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi. Berdiri adalah posisi tak stabil yang membutuhkan regulasi yang konstan dari kontraksi antara anggota gerak atas dan bawah (Jalalin, 2000). 
Aktivitas somatis motorik sangat tergantung pada tingkat keluarnya motor neuron di tulang belakang yang bercabang juga ke nervus kranial. Jalur akhir saraf ini secara umum berakhir di otot rangka, impuls akan masuk melalui serabut afferen perifer dan juga pada spinal neuron lainnya. Beberapa impuls berakhir langsung di-motor neuron, tetapi banyak juga yang mengerahkan melalui interneuron atau melalui-motor neuron ke otot spindle dan kembali melalui serat afferen ke sumsum tulang belakang. Kegiatan pada saraf sangat terintegrasi, impuls dapat masuk dari tulang belakang, medula, otak tengah, dan tingkat kortikal yang mengatur postur tubuh dan membuat gerakan terkoordinasi (Ganong, 2010).
Input yang masuk berkumpul di motor neuron kemudian di bagi menjadi tiga fungsi: impuls membawa informasi tentang aktivitas yang disadari, postur tubuh akan menyesuaikan impuls yang masuk guna memberikan gerakan yang stabil, impuls dapat mengkoordinasikan tindakan dari berbagai otot untuk membuat gerakan halus dan tepat. Pola aktivitas yang disadari dapat direncanakan dalam otak, dan perintah dikirim ke otot-otot terutama melalui sistem kortikospinalis dan kortikobulbar. Postur terus disesuaikan dan menyesuaikan impuls yang masuk dari batang otak dan serabut afferent perifer selama dan sebelum gerakan itu di bentuk. Gerakan dihaluskan dan dikoordinasikan oleh bagian otak tengah dan spinocerebellum. Ganglia basal dan cerebrocerebellum merupakan bagian dari rangkaian umpan balik ke pre-motor dan korteks motor yang berkaitan dengan perencanaan dan pengorganisasian gerakan yang disadari (Ganong, 2010).
Terdapat dua macam keseimbangan menurut Permana (2012) yaitu : 

a. Keseimbangan statis
Dalam keseimbangan statis, ruang geraknya sangat kecil, misalnya berdiri di atas dasar yang sempit (balok keseimbangan, rel kereta api), melakukan hand stand, mempertahankan keseimbangan setelah berputar-putar di tempat.
b. Keseimbangan dinamis
Kemampuan orang untuk bergerak dari satu titik atau ruang ke lain titik dengan mempertahankan keseimbangan, misalnya menari, berjalan, duduk ke berdiri, mengambil benda di bawah dengan posisi berdiri dan sebagainya.
2. Fisiologi keseimbangan
Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan postur oleh aktivitas motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan sistem regulasi yang berperan dalam pembentukan keseimbangan. Tujuan dari tubuh mempertahankan keseimbangan adalah : menyanggah tubuh melawan gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar seimbang dengan bidang tumpu, serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak. Fisiologi keseimbangan dimulai sejak informasi keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual dan propioseptik. Dari ketiga jenis reseptor tersebut, reseptor vestibuler yang punya kontribusi paling besar ( >50% ) kemudian reseptor visual dan yang paling kecil konstibusinya adalah propioseptik. Ketika terjadi gerakan atau perubahan dari kepala atau tubuh, cairan endolimfe pada labirin akan berpindah sehingga hair cells menekuk. Terjadilah permeabilitas membran sel berubah sehingga ion kalsium menerobos masuk kedalam sel (influx), Influx Ca menyebabkan depolarisasi dan juga merangsang pelepasan NT eksitator (glutamat), saraf aferen (vestibularis) dan pusat-pusat keseimbangan di otak (Rahayu, 2010). 
Menurut Sherwood (2002) mekanisme fisiologi terjadinya keseimbangan dimulai ketika reseptor di mata menerima masukan penglihatan, reseptor di kulit menerima masukan kulit, reseptor di sendi dan otot menerima masukan proprioseptif dan reseptor di kanalis semikularis dan organ otolit menerima masukan vestibular. Seluruh masukan atau input sensoris yang diterima di salurkan ke nuklus vestibularis yang ada di batang otak, kemudian terjadi pemrosesan untuk koordinasi di serebelum, dari serebelum informasi disalurkan kembali ke nuklus vestibularis. Terjadilah output atau keluaran ke neuron motorik otot ekstremitas dan badan berupa pemeliharaan keseimbangan dan postur yang diinginkan, keluaran ke neuron motorik otot mata ekternal berupa kontrol gerakan mata, dan keluaran ke SSP berupa persepsi gerakan dan orientasi. Mekanisme tersebut jika berlangsung dengan optimal akan menghasilkan keseimbangan statis yang optimal.
Ada dua jenis motor ouput: disadari dan tidak disadari. Sebuah subdivisi tanggapan refleks mencakup beberapa gerakan ritmis seperti menelan, mengunyah, menggaruk, dan berjalan. Sebagian besar gerakan reflek tidak disadari namun dapat menyesuaikan gerakan yang disadari dan terkontrol. Untuk memindahkan anggota badan, otak harus merencanakan gerakan, mengatur gerakan yang sesuai di berbagai sendi pada saat yang sama, dan menyesuaikan gerakan dengan membandingkan rencana dengan kinerja. Sistem motor "learn by doing" dan meningkatkan kinerja dengan pengulangan. Hal ini melibatkan plastisitas sinaptik (Ganong, 2010).
Perintah untuk gerakan yang disadari berasal dari daerah asosiasi kortikal. Mutasi yang direncanakan di korteks serta dalam ganglia basal dan bagian lateral hemisfer cerebellar, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan aktivitas listrik sebelum gerakan. Thalamus akan mengatur informasi yang diterima kemudian diteruskan ke ganglia basal, saluran otak kecil lalu diteruskan ke pre-motor dan korteks motor. Perintah motor dari korteks motorik diteruskan sebagian besar melalui saluran kortikospinalis ke sumsum tulang belakang dan saluran kortikobulbar yang sesuai untuk motor neuron di batang otak. Jalur collateral dan koneksi langsung dari beberapa korteks motor berakhir pada batang otak. Jalur ini juga dapat memediasi gerakan yang disadari. Perubahan gerakan adalah pengaruh dari masukan sensorik melalui indera dan dari otot, tendon, sendi, dan kulit. Informasi umpan balik ini dapat menyesuaikan dan menghaluskan gerakan. Jalur batang otak yang berkaitan dengan postur tubuh dan koordinasi adalah saluran rubrospinal, reticulospinal, tectospinal, dan vestibulospinal (Ganong, 2010).
Pada batang otak dan sumsum tulang belakang ada jalur dan neuron yang berkaitan dengan kontrol otot trunk dan bagian proksimal dari extremitas atas, sedangkan jalur neuron yang terhubung dengan kontrol otot rangka terdapat di bagian distal extremitas atas. Otot-otot axial akan menyesuaikan postural dan gerakan kasar, sedangkan otot-otot ekstremitas distal, akan membuat gerakan menjadi terampil (Ganong, 2010). 
3. Komponen-komponen pengontrol keseimbangan adalah :
a. Sistem informasi sensoris
Sistem informasi sensoris meliputi visual, vestibular, dan somatosensoris.
1) Visual 
Visual memegang peran penting dalam sistem sensoris. Keseimbangan akan terus berkembang sesuai umur, mata akan membantu agar tetap fokus pada titik utama untuk mempertahankan keseimbangan, dan sebagai monitor tubuh selama melakukan gerak statik atau dinamik. Penglihatan merupakan sumber utama informasi tentang lingkungan dan tempat kita berada, penglihatan memegang peran penting untuk mengidentifikasi dan mengatur jarak gerak sesuai lingkungan tempat kita berada. Penglihatan muncul ketika mata menerima sinar yang berasal dari obyek sesuai jarak pandang (Irfan, 2010). 
Dengan informasi visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan bidang pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang sinergis untuk mempertahankan keseimbangan tubuh (Irfan, 2010).

2) Sistem vestibular
Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam keseimbangan, kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor  sensoris vestibular berada di dalam telinga. Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis, utrikulus, serta sakulus. Reseptor dari sistem sensoris ini disebut dengan sistem labyrinthine. Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala dan percepatan perubahan sudut. Melalui refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat obyek yang bergerak. Mereka meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus vestibular yang berlokasi di batang otak. Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio retikularis, thalamus dan korteks serebri (Canan, t.t).
Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth, retikular formasi, dan serebelum. Keluaran (output) dari nukleus vestibular menuju ke motor neuron melalui medula spinalis, terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot pada leher dan otot-otot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural (Canan, t.t).

3) Somatosensoris
Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi kognitif. Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis medula spinalis. Sebagian besar masukan (input) proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang menuju ke korteks serebri melalui lemniskus medialis dan talamus (Irfan, 2010). 
Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung pada impuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat indra tersebut adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum. Impuls dari alat indra ini dari reseptor raba di kulit dan jaringan lain, serta otot di proses di korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang (Irfan, 2010). 

b. Respon otot-otot postural yang sinergis (postural muscles response synergies)
Respon otot-otot postural yang sinergis mengarah pada waktu dan jarak dari aktivitas kelompok otot yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan kontrol postur. Beberapa kelompok otot baik pada ekstremitas atas maupun bawah berfungsi mempertahankan postur saat berdiri tegak serta mengatur keseimbangan tubuh dalam berbagai gerakan. Keseimbangan pada tubuh dalam berbagai posisi hanya akan dimungkinkan jika respon dari otot-otot postural bekerja secara sinergi sebagai reaksi dari perubahan posisi, titik tumpu, gaya gravitasi, dan aligment tubuh (Nugroho, 2011).
Kerja otot yang sinergi berarti bahwa adanya respon yang tepat (kecepatan dan kekuatan) suatu otot terhadap otot yang lainnya dalam melakukan fungsi gerak tertentu.

c. Kekuatan otot (muscle strength)
Kekuatan otot umumnya diperlukan dalam melakukan aktivitas. Semua gerakan yang dihasilkan merupakan hasil dari adanya peningkatan tegangan otot sebagai respon motorik. Kekuatan otot dapat digambarkan sebagai kemampuan otot menahan beban baik berupa beban eksternal (eksternal force) maupun beban internal (internal force). Kekuatan otot sangat berhubungan dengan sistem neuromuskuler yaitu seberapa besar kemampuan sistem saraf mengaktifasi otot untuk melakukan kontraksi. Sehingga semakin banyak serabut otot yang teraktifasi, maka semakin besar pula kekuatan yang dihasilkan otot tersebut (Nugroho, 2011).
Kekuatan otot dari kaki, lutut serta pinggul harus adekuat untuk mempertahankan keseimbangan tubuh saat adanya gaya dari luar. Kekuatan otot tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan otot untuk melawan gaya garvitasi serta beban eksternal lainnya yang secara terus menerus mempengaruhi posisi tubuh (Nugroho, 2011).

d. Adaptive systems
Kemampuan adaptasi akan memodifikasi input sensoris dan keluaran motorik (output) ketika terjadi perubahan tempat sesuai dengan karakteristik lingkungan (Canan, t.t). 

e. Lingkup gerak sendi (joint range of motion)
Kemampuan sendi untuk membantu gerak tubuh dan mengarahkan gerakan terutama saat gerakan yang memerlukan keseimbangan yang tinggi (Nugroho, 2011).

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan 
a. Pusat gravitasi (Center of Gravity-COG)
Pusat gravitasi terdapat pada semua obyek, pada benda, pusat gravitasi terletak tepat di tengah benda tersebut. Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan mendistribusikan massa tubuh secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang. Pada manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat. Pusat gravitasi manusia ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang diantara depan dan belakang vertebra sakrum ke dua. Derajat stabilitas tubuh dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu : ketinggian dari titik pusat gravitasi dengan bidang tumpu, ukuran bidang tumpu, lokasi garis gravitasi dengan bidang tumpu, serta berat badan (Nugroho, 2011).
Pusat geometris dari sebuah objek sama dengan pusat gravitasi. Tubuh manusia bersifat dinamis, terus bergerak dari satu posisi ke posisi lain. Keseimbangan statis memiliki pergerakan kecil pada base-nya. Hal tersebut dapat dilihat pada individu yang sedang berdiri tegak pada poros gravitasi (Piscopo and Baley, 1981).

b. Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG)
Garis gravitasi merupakan garis imajiner yang berada vertikal melalui pusat gravitasi dengan pusat bumi. Hubungan antara garis gravitasi, pusat gravitasi dengan bidang tumpu adalah menentukan derajat stabilitas tubuh. Garis gravitasi didefinisikan sebagai garis imajiner yang melewati pusat objek gravitasi. Garis gravitasi lewat pusat geometris dari base of support pada posisi keseimbangan. Kontrol postur keseimbangan berdiri tegak membentuk garis gravitasi berakhir pada base-nya (Piscopo and Baley, 1981).
Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan dengan permukaan tumpuan. Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu, tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya area bidang tumpu. Semakin besar bidang tumpu, semakin tinggi stabilitas. Misalnya berdiri dengan kedua kaki akan lebih stabil dibanding berdiri dengan satu kaki. Semakin dekat bidang tumpu dengan pusat gravitasi, maka stabilitas tubuh makin tinggi. Posisi keseimbangan statis memiliki base of support yang luas, ketika tumpuan dipersempit cenderung sulit untuk menjaga garis gravitasi selama hal tersebut dilakukan. Berdiri menggunakan satu kaki akan sulit jika dibandingkan dengan berdri dua kaki. Hal tersebut terjadi karena garis gravitasi yang terkonsentrasi langsung di bawah satu kaki tersebut (Piscopo and Baley, 1981). 

c. Reflek
Untuk memelihara keseimbangan dan melakukan aktivitas yang bertujuan saat berdiri dan berjalan, seseorang harus mampu untuk secara aktif mengontrol gerakan pusat gravitasi di bagian bawah abdomen, terdapat 3 sendi. Luasnya variasi pola gerakan dari sudut tersebut (sendi panggul, sendi lutut dan sendi pergelangan kaki) berguna untuk menggerakan pusat gravitasi. Pola gerakan fungsional yang efektif dari sendi pergelangan kaki, sendi lutut dan sendi panggul mengarah pada beberapa pola relatif yang secara umum dikenal dengan strategi gerakan postural (Jalalin, 2000).
Dengan metodologi platform yang bergerak, telah dapat diidentifikasi paling sedikit 3 jenis strategi respon postural reaktif yang digunakan untuk memulihkan keseimbangan. 

d. Keseimbangan statis berdiri  
Pada posisi berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi untuk menjaga pusat massa tubuh (center of body mass) dalam keadaan stabil dengan batas bidang tumpu tidak berubah kecuali tubuh membentuk batas bidang tumpu lain (misalnya : melangkah). Pengontrol keseimbangan pada tubuh manusia terdiri dari tiga komponen penting, yaitu sistem informasi sensorik (visual, vestibular dan somatosensoris), central processing dan efektor.  Pada sistem informasi, visual berperan dalam contras sensitifity (membedakan pola dan bayangan) dan membedakan jarak.  Selain itu masukan (input) visual berfungsi sebagai kontrol keseimbangan, pemberi informasi, serta memprediksi datangnya gangguan. Bagian vestibular berfungsi sebagai pemberi informasi gerakan dan posisi kepala ke susunan saraf pusat untuk respon sikap dan memberi keputusan tentang perbedaan gambaran visual dan gerak yang sebenarnya.  Masukan (input) proprioseptor pada sendi, tendon dan otot dari kulit di telapak kaki juga merupakan hal penting untuk mengatur keseimbangan saat berdiri statis maupun dinamik (Army, 2012).
Central processing berfungsi untuk memetakan lokasi titik gravitasi, menata respon sikap, serta mengorganisasikan respon dengan sensorimotor. Selain itu, efektor berfungsi sebagai perangkat biomekanik untuk merealisasikan renspon yang telah terprogram di pusat, yang terdiri dari unsur lingkup gerak sendi, kekuatan otot, alignment sikap, serta stamina (Army, 2012).
Postur adalah posisi atau sikap tubuh. Tubuh dapat membentuk banyak postur yang memungkinkan tubuh dalam posisi yang nyaman selama mungkin. Pada saat berdiri tegak, hanya terdapat gerakan kecil yang muncul dari tubuh, yang biasa di sebut dengan ayunan tubuh. Luas dan arah ayunan di ukur dari permukaan tumpuan dengan menghitung  gerakan yang menekan di bawah telapak kaki, yang di sebut pusat tekanan (center of pressure-COP). Jumlah ayunan tubuh ketika berdiri tegak di pengaruhi oleh faktor posisi kaki dan lebar dari bidang tumpu (Nugroho, 2011). Posisi tubuh ketika berdiri dapat dilihat kesimetrisannya dengan : kaki selebar sendi pinggul, lengan di sisi tubuh, dan mata menatap ke depan. Walaupun posisi ini dapat dikatakan sebagai posisi yang paling nyaman, tetapi tidak dapat bertahan lama, karena seseorang akan segera berganti posisi untuk mencegah kelelahan (William, et al., t.t).

e. Sikap tubuh berdiri dalam kinesiologi
Ditinjau dari kinesiologi, berdiri statis dapat memiliki permasalahan. Sehingga dalam berdiri harus memiliki sikap dan keterampilan yang akan mengurangi dampak negatif atau risiko cedera. Oleh karena itu secara teknis berdiri yang baik dapat dilakukan dengan menempatkan center of gravity dan bidang tumpu yang benar. Pada sikap berdiri normal manusia dewasa umumnya center of gravity terletak setinggi vetrabrae sakralis ketiga atau setinggi ossa sacrum sebelah atas. Seorang wanita center of gravitry-nya lebih rendah dari os sacrum, itu karena panggul dan paha relatif  lebih rendah, lebih berat dan tungkai lebih pendek dari laki-laki (Nugroho, 2011).
Titik center of gravity menurut Groves and Camalone (1975) terdapat setinggi 57% dari tinggi badan laki – laki dan setinggi 55% dari tinggi badan perempuan. Center of gravity pada seseornga dapat berubah – ubah sesuai dengan pergerakan dan postur tubuh yang terjadi. Sikap tubuh pada posisi anatomis adalah sikap tubuh paling stabil dan letak dari center of gravity terletak setinggi sakrum di depan promontorium yang melayang. Ini dapat berubah sesuai dengan berat badan, bidang tumpu, garis gravitasi dan faktor ekternal dari lingkungan sekitar. Tubuh akan terus memposisikan center of gravity agar terletak seimbang dengan posisi tubuh agar tetap mampu stabil, sehingga ketika terjadi gangguan yang menyebabkan terjadinya perubahan center of gravity tubuh akan merespon dengan gerakan – gerakan penyeimbang tubuh berupa reflek outomatik pada tubuh manusia.
Stabilitas pada manusia tergantung pada  base of support, base of support melibatkan titik kontak dengan penyangga dan daerah dua dimensi antara titik – titik kontak. Titik – titik kontak adalah bagian tubuh yang menyentuh permukaan penyangga. Contoh seperti tangan, kaki, lutut, atau kombinasi dari semuanya, termasuk seluruh tubuh. Ketika pusat gravitasi tubuh bergerak diluar area base of support maka dapat menyebabkan hilangnya stabilitas pada keseimbangan tubuh seseorang (Groves and Camalone, 1975).

f. Kesehatan organ tubuh.
Sebuah gangguan keseimbangan dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan atau masalah otak atau telinga bagian dalam, atau obat. Tubuh mempertahankan keseimbangan gabungan dari sistem tubuh yang berbeda, termasuk mata, telinga bagian dalam, reseptor proprioseptif, dan otak. Setiap kondisi yang mempengaruhi satu atau lebih ini dapat menyebabkan gangguan keseimbangan atau perasaan kehilangan keseimbangan.

Penyebab yang berhubungan dengan Telinga
Vertigo, atau perasaan berputar, dapat disebabkan oleh gangguan pada telinga bagian dalam. Ini bagian dari sistem keseimbangan menginformasikan otak tentang perubahan gerakan kepala Anda terkait dengan gravitasi. Ketika sistem ini dipengaruhi, vertigo, pusing, mual, dan muntah.Penyebab vertigo yang berhubungan dengan telinga bagian dalam meliputi: Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) adalah karena partikel kecil yang terletak di telinga bagian dalam, menghambat fungsi normal. Pusing dapat terjadi tiba-tiba ketika Anda memindahkan kepala Anda dari tempat tidur. Ini dapat kambuh selama bertahun-tahun jika tidak diobati.Infeksi telinga bagian dalam atau labyrinthitis bisa disebabkan oleh virus atau infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan. Hal ini menyebabkan vertigo, dering di telinga (tinnitus), mual, muntah, dan gangguan pendengaran. Penyakit Meniere adalah suatu kondisi di mana Anda mengalami vertigo, mual dan muntah, kehilangan pendengaran unilateral atau bilateral, tinnitus, dan gangguan pendengaran. Gejala-gejala ini biasanya terjadi berurutan dan vertigo dapat berlangsung selama berjam-jam. Untuk meringankan gejala, Anda harus mengkonsumsi makanan yang rendah garam dan menghindari merokok dan konsumsi alkohol. Fistula perilimfe melibatkan kebocoran cairan dari telinga bagian dalam ke telinga tengah, yang mungkin disebabkan oleh trauma, perubahan tekanan telinga, infeksi telinga kronis, operasi telinga, atau aktivitas fisik. Selain pusing, seseorang dapat mengalami goyah saat berdiri atau berjalan, yang diperparah oleh aktivitas fisik.

Penyebab Yang Terkait Dengan Otak
Kondisi di otak juga dapat dihubungkan dengan vertigo:
Perubahan usia-terkait atau degeneratif dalam fungsi keseimbangan merupakan salah satu penyebab paling umum dari gangguan keseimbangan yang ditandai dengan vertigo. Namun, ini mungkin karena penyebab lain yang berkaitan dengan penuaan seperti arteriosklerosis, yang merupakan pengerasan dan penyempitan pembuluh darah yang memasok darah ke otak. Sebuah stroke, yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, juga dapat menyebabkan pusing dan kehilangan keseimbangan. Perubahan-perubahan degeneratif dapat dihubungkan dengan kelemahan dan kesulitan dalam berdiri dan berjalan.

Trauma pada kepala merupakan penyebab lain kemungkinan pusing dan kehilangan fungsi telinga bagian dalam. Tergantung pada lokasi trauma, orang mungkin mengalami sakit kepala, dering di telinga, mual, dan muntah. Konsultasi medis diperlukan untuk mendiagnosa dan mengobati patah tulang tengkorak dan gegarotak. Infeksi yang melibatkan otak seperti meningitis, ensefalitis, abses otak dan dapat menyebabkan pusing. Ini juga dapat menyebabkan demam, mual, muntah, nystagmus, dan penglihatan kabur. Meningitis melibatkan peradangan pada otak dan dapat menyebabkan leher kaku dan ketidakmampuan untuk mentoleransi cahaya atau suara keras. Dengan ensefalitis, ada peradangan pada otak yang juga dapat menyebabkan kejang-kejang, tremor, dan halusinasi. Sebuah abses otak bisa terjadi akibat infeksi di telinga, sinus, atau bagian lain dari tubuh. Selain pusing, mual, dan muntah, Anda mungkin mengalami sakit kepala, kebingungan, mengantuk, kejang, dan kelemahan. Konsultasi medis diperlukan untuk mendiagnosa dan mengobati masalah. Migren bisa menyebabkan vertigo dan dikenal sebagai migrain atau vertigo vestibular migren. Gejala meliputi episode vertigo, sakit kepala migren yang khas, ketidakmampuan untuk mentoleransi cahaya atau suara, dan mengalami aura visual atau non-visual.

Penyebab lainnya

Kondisi-kondisi lain seperti tekanan darah rendah, diabetes, dan asupan berbagai obat dapat menyebabkan kehilangan keseimbangan.
Tekanan darah rendah sering dapat terjadi dengan gejala umum seperti pusing dan goyah. Penurunan tekanan darah dapat mengakibatkan kurangnya aliran darah ke otak. Ini dapat terjadi karena perdarahan, masalah tiroid, infeksi, atau alergi. Perhatian medis dilakukan untuk mendiagnosa penyebab tertentu sebelum pengobatan diberikan. Diet yang tepat, perubahan gaya hidup, dan obat-obatan dapat membantu menormalkan tekanan darah. Neuropati diabetik atau kerusakan saraf yang berhubungan dengan diabetes terjadi karena peningkatan kronis pada kadar gula darah. Gejala meliputi tekanan darah rendah, kehilangan keseimbangan saat berdiri tiba-tiba, dan pusing. Diagnosis tergantung pada kadar gula darah dan evaluasi klinis. Pengobatan bertujuan untuk menurunkan kadar glukosa darah, mengambil diet yang tepat, obat diabetes, olahraga teratur, dan pemantauan gula darah.
Obat-obatan seperti yang digunakan untuk tekanan darah tinggi, obat penenang, dan antihistamin dapat menyebabkan efek samping seperti pusing dan kehilangan keseimbangan. Kadang-kadang hal ini dikaitkan dengan mengantuk, mual, dan muntah. hal ini sangat mengganggu keapda aktifitas sehari-hari.




























BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan.

Keseimbangan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat melakukan aktivitas dengan sempurna, keseimbangan membuat segalasesuatu berjalan dengan baik. Namun demikian, berbagai hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan manusia dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan baik itu keseimbangan mental, keseimbangan fisik dan keseimbangan spiritual. Ketiga dimensi kehidupan manusia tersebut juga harus memiliki keseimbangan, karena gangguan pada salah satu aspek akan berarti hilangnya keseimbangan dalam kehidupan manusia.
Ketidakseimbangan dapat diakibatkan oleh banyak hal, kekurangan fisik yang diakibatkan cacat sejak lahir atau diakibatkan kecelakaan, trauma terhadap suatu peristiwa yang sulit dilupakan, atau kondisi spiritual yang tidak stabil. Selain itu ketidakseimbangan dapat pula diakibatkan oleh penyakit yang berdampak pada keseimbangan seperti gangguan pada telinga, otak dan kepala.
Untuk memulihkan kondisi tidak seimbang yang dialami oleh seseorang, diperlukan berbagai penanganan, berbagai latihan dapat dilakukan untuk melatih keseimbangan fisik dengan melatih system musculoskeletal dan syaraf-syaraf motoric. Selain itu untuk membuat keseimbangan, setiap orang perlu melatih kemampuan gerak dan kemampuan organ tubuh secara maksimal sehingga setiap organ tubuhnya dapat berfungsi sebagaimana seharusnya.

B.     Saran.
Untuk menjaga agar tubuh tetap berada pada keseibangan, maka setiap orang disarankan untuk melakukan berbagai aktivitas yang menjaga fungsi musculoskeletal, syaraf motoric dan fungsi organ tubuh yang lain.
Menjaga kesehatan organ tubuh dari berbagai penyakit yang dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan inti tubuh.












Comments

Popular posts from this blog

LAGU-LAGU IBADAH JUMAT AGUNG

SPECIAL RESEP MASAK