YESUS MEREDAKAN ANGIN RIBUT
Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu
ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya
membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada
mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah
Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali.
Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga
angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27)
Baca juga: Am 3:1-8; 4:11-12; Mazmur
Tanggapan: Mzm 5:5-8
“Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat 8:26). Dengan kata-kata ini Tuhan Yesus menegur
para murid-Nya. Namun sebenarnya kata-kata-Nya itu ditujukan kepada kita juga.
Yesus juga menegur kita karena mempunyai rasa takut terhadap begitu banyak hal.
Ini adalah pelajaran yang bagus sekali. Dia sungguh ingin mengajar kita. Betapa
sering kita merasa khawatir dan gelisah tentang begitu banyak hal, tanpa
sedikit pun ada keyakinan akan kebaikan Allah dan kuasa-Nya.
Kita tidak perlu membuktikan bahwa rasa
takut itu sudah sungguh menyebar-luas. Orang-orang miskin merasa takut bahwa
besok mereka tidak dapat makan. Orang-orang kaya merasa takut akan kehilangan
kekayaan mereka di pasar modal. Orang-orang yang kurang berpendidikan merasa
takut terlibat dalam pembicaraan dengan orang-orang yang lebih berpendidikan
karena khawatir dipermalukan. Orang-orang yang terdidik seringkali merasa takut
kehilangan posisi dan prestise sosial mereka. Kemudian jangan lupa adanya
begitu banyak orang yang percaya kepada hal-hal yang bersifat takhyul, takut
ini dan takut itu. Ketakutan telah merasuk ke dalam kehidupan setiap orang dari
berbagai kalangan
Orang-orang yang tidak beragama atau
iman-kepercayaan tertentu merasa takut terhadap ketidakpastian hidup dan
teristimewa ketidakpastian berkaitan dengan hari-H kematian. Yang sangat
menyedihkan serta mengejutkan adalah apabila kita berjumpa dengan orang-orang
yang beriman, saleh dalam melakukan kewajiban agama mereka, namun masih saja
dihinggapi rasa takut yang kosong dan sia-sia.
Orang-orang
yang disebutkan terakhir ini adalah seperti para murid dalam bacaan Injil hari
ini. Walaupun Tuhan Yesus sendiri ada di sana bersama mereka di dalam perahu
ketika tiba-tiba diterpa amukan angin ribut, mereka tetap saja membangunkan Dia
dan berseru dengan penuh ketakutan: Tuhan, tolonglah, kita
binasa” (Mat 8:25). Dalam kebaikan-Nya Yesus menenangkan angin
ribut di danau itu, namun Ia menegur ketiadaan iman para murid-Nya dan
ketakutan mereka walaupun jelas-jelas Dia hadir di tengah-tengah mereka: “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat
8:26).
Yesus juga menujukan teguran-Nya yang sama
kepada kita untuk rasa takut kita yang kecil-kecil dan terkadang terasa tolol.
Kita lupa bahwa Dia adalah Imanuel yang selalu hadir dalam kehidupan kita (Mat
1:23; 28:20). Kita takut dan khawatir akan kondisi kesehatan kita, takut dan
waswas akan “nasib” anak-cucu kita, khawatir akan rumah tinggal kita dst.
Memang
ada yang dikenal sebagai rasa takut yang sehat (healty fears atau healthy concerns). Kita harus
mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk kehidupan kita, keluarga
kita, untuk kesejahteraan moral dan untuk kesejahteraan spiritual orang-orang
yang kita kasihi. Kita juga harus mempunyai rasa takut (yang sehat) terhadap
dosa. Akan tetapi, pada kenyataannya ada begitu banyak rasa takut yang “bodoh”, yang menghalang-halangi pekerjaan
kita, kebahagiaan dan kehidupan spiritual kita. Inilah rasa takut yang Tuhan tidak inginkan ada dalam hidup
kita dan minta agar kita mengingat bahwa Dia senantiasa hadir di tengah-tengah
kita. Dia tidak akan tinggal diam apabila kita menghadapi berbagai tantangan
yang membahayakan keberadaan kita.

Comments
Post a Comment